Jumat, 28 November 2008

PEMBENIHAN KUDA LAUT

PEMBENIHAN KUDA LAUT (HIPPOCAMPUS SP.)
(Tugas Makalah Budidaya Air Payau)

Oleh

Nopen Setiawan
0514111027



Program Studi Budidaya Perairan

Fakultas Pertanian
Universitas Lampung
2008

I. PENDAHULUAN

Salah satu jenis ikan hias yang banyak diperdagangkan di Indonesia adalah ikan tangkur kuda atau lebih umum dikenal sebagai kuda laut. Ikan ini, selain diperdagangkan sebagai ikan hias juga digunakan sebagai bahan ramuan obat-obatan tradisional yang dipercayai mempunyai khasiat tertentu.

Teknologi pembenihan untuk jenis ikan hias ini masih sangat minim, sehingga produksinya masih mengandalkan hasil penangkapan di laut. Bahkan untuk mendapatkan hasil yang banyak dan cepat, mendorong usaha penangkapan dilakukan dengan menggunakan jalan pintas, yaitu dengan cara pembiusan. Dari segi ekologis, cara ini tentunya akan sangat merugikan dan membahayakan, bukan
hanya terhadap ikan tangkapan tetapi juga terhadap kehidupan organisme lainnya dan lingkungan sekitarnya.

Dengan melihat kenyataan tersebut, maka pengembangan budidaya kuda laut ini potensial untuk dikembangkan. Untuk mendukung hal tersebut maka diperlukan data biologis yang lebih lengkap. Aspek biologi yang penting diketahui untuk menunjang keberhasilan budidaya ikan ini adalah ukuran induk ikan yang siap dipijahkan dan siklus pemijahannya.

Makalah ini dibuat dengan harapan mampu memberikan informasi baru tentang budidaya kuda laut. .

II. ISI MAKALAH


A. Klasisfikasi dan Morfologi Kuda Laut

1. Klasisfikasi

Spesies kuda Laut (Hippocampus sp) merupakan ikan dari kingdom animalia,
Kingdom: Animalia, filum: Chordata, kelas: Osteichthyes, Ordo: Gasterosteiformes, Famili: Syngnathidae, Genus: Hippocampus, (Linnaeus, 1758)

2. Morfologi

Kuda laut hamper sama dengan famili pipe fisher lainya, terdapat 35 spesies. Kepala kuda laut menyerupai kepala kuda dan tubuh yang panjang lalu mengecil pada bagian ekornya. Panjang rata-rata kuda laut 16 mm-35 cm telur dierami induk jantan kuda laut. Sirip dorsal terletak di tubuh bagian bawah dan sirip pectoral di kepala dekat ingsang. Memiliki mulut hisap yang panjang seperti vacuum cleaner untuk menghisap makanan berupa udang dan krustacea. Kuda laut memiliki ekor yang melilit kuat pada lamun atau rumput laut sehingga tidak terbawa oleh arus. Seperti bunglon, kuda laut dapat merubah sesuai dengan substrat tempat untuk menempel. Kamufalase ini untuk melindungi diri dari predator seperti kepiting.



















gambar kuda laut


B. Pemeliharaan Induk
Induk kuda laut dipelihara pada bak beton atau bak fiber. Di dalam bak dibuatkan tempat bertengger berbentuk prisma (piramid) dari bambu. Pemberian pakan 2-3 kali sehari adlibitum yaitu pada pagi, siang dan sore hari, berupa udang rebon dan udang jambret.
C. Pemijahan Kuda Laut

Kuda laut dapat memijah secara alami di bak terkontrol, telur hasil pijahan akan dierami oleh induk jantan. Setelah terjadi pemijahan, induk jantan dipisahkan atau tetap bersama dengan induk yang lain. Lama pengeraman lebih kurang 10 hari. Sebaiknya induk dihindarkan dari hal-halyang menyebabkan stress yang mengakibatkan juwana dikelurakan sebelum waktunya (premature) sehingga tidak mampu bertahan hidup lebih lama.

Penetasan Juwana

Induk jantan yang sudah mengerami telur pada hari ke-9 dipindahkan ke bak lain yang telah disiapkan sebelumnya. Pada hari ke-10 juwana akan dikeluarkan dari kantung jantan. Pengeluaran juwana umumnya pada malam hari. Setelah seluruh juwana dikeluarkan, induk jantan dipindahkan ke bak pemeliharaan induk.



D. Pemeliharaan Juwana

Penebaran Juawana

Juwana dapat dipelihara di tempat terlindung maupun yang terkena sinar matahari langsung. Pemeliharaan di bak beton maupun di bak fibreglass memberikan hasil yang cukup baik. Pada penebaran juwana umur 1 hari (D!) adalah 1-5 ekor / liter.

Penyiapan dan Pemberian Pakan
Pakan yang diberikan pada juawana adalah pakan alami, biasanya berupa Nauplii Copepoda dan artemia.

Nauplii Copepoda
Nauplii Copepoda dapat digunakan sebagai pakan awal juwana kuda laut umur 1 - 15 hari. Copepoda dapat dikultur di air laut (25-30 ppt) ditambah pupuk organik selama 5-8 hari. Nauplii Copepoda dipanen dengan plankton net 60 mikron.

Artemia
Nauplii artemia baru diberikan setelah juwana berumur 14 hari. Kista artemia dapat ditetaskan dalam fibreglass, yang pada bagian bawahnya berbentuk kerucut dan berwarna terang, diisi air laut bersih dan diberi aerasi kuat. Telur akan menetas setelah 19-24 jam pada temperatur kamar.

Pengganti Air dan Penyiponan
Penggantian air dilakukan setiap hari mulai hari ke-3 sebanyak 5-50% sampai umur 30 hari. Sebelum dilakukan penggantian air terlebih dahulu dapat dilakukan penyiponan untuk membersihkan kotoran dan sisa pakan yang mati dan mengendap di dasar bak. Bila kotoran dan sisa pakan yang mati tidak dibuang akan membusuk dan mengakibatkan menurunnya kualitas air. Penyiponan hendaknya dilakukan dengan hati-hati, untuk menghindari teraduknya kotoran. Sebaiknya aerasi dihentikan terlebih dahulu selama penyiponan




Daftar Pustaka

Anonim. 2007. Pembenihan Kuda Laut. http://ikanmania.wordpress.com/ 2007/12/30/pembenihan-kuda-laut. 22 Oktober 2008.
Syamsuhartien1; Djawad, M. Iqbal ; Ali, Syamsu Alam ; Tresnati, Joeharnani. Pola pemijahan kuda laut (hippocampus spp.) di perairan kepulauan tana keke. http://www.pascaunhas.net/jurnal_pdf/SC/SC-ags-03/1-syamsu%20hartien%20pola%20pemijahan%20Sci&Tech2%20_1_%20format%20kolom.pdf. 22 Oktober 2008.
Lourie, Sara A. 2001. Seahorses (Genus Hippocampus) of Indonesia. http://www.google.co.id/search?q=SEAHORSES+(Genus+Hippocampus)+OF+INDONESIA&btnG=Telusuri&hl=id&client=firefox-a&channel=s&rls=org.mozilla%3Aen-US%3Aofficial&hs=Tpf&sa=2. 22 Oktober 2008.

tentang cumi-cumi

Sistem Berenang dan Pertahanan
Cumi-cumi termasuk hewan tak bertulang belakang yang tidak mempunyai tulang pada tubuhnya, meskipun disebut ikan. Mereka mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk bergerak lihai karena adanya sistem yang sangat menarik. Tubuh lunaknya diselimuti oleh lapisan pelindung tebal yang di bawahnya air dalam jumlah besar disedot dan disemburkan oleh otot-otot yang kuat, sehingga memungkinkannya bergerak mundur.

Lapisan tipis kulit yang menutupi lengan dan tubuh makin membantu sistem berenang reaksi pada cumi-cumi. Cumi-cumi mengapung dalam air dengan cara melambai-lambaikan selaput berbentuk menyerupai tirai ini. lengannya, di pihak lain, berguna menyeimbangkan tubuh selama mengambang. Lengan-lengan juga berguna mengerem untuk menghentikan laju.

Sistem berenang reaksi gurita dan cumi-cumi ternyata bekerja dengan cara dasar yang mirip dengan pesawat jet. Melalui penelitian lebih dekat, jelaslah bahwa sistem otot mereka telah dirancang dengan cara yang paling cocok untuk mereka. Oleh karena itu, tentu saja tidak masuk akal jika menganggap bahwa bentuk rumit seperti ini telah terbentuk melalui kebetulan demi kebetulan.

Cara kerja tubuhnya itu sangatlah rumit. Pada kedua sisi kepala hewan ini terdapat lubang yang menyerupai kantung. Air disedot masuk melalui lubang ini menuju suatu rongga berbentuk tabung di dalam tubuhnya. Kemudian ia menyemprotkan air tersebut keluar dari pipa sempit tepat di bawah kepalanya dengan tekanan tinggi, sehingga dengannya ia mampu bergerak cepat ke arah yang berlawanan akibat gaya reaksi.

Cara berenang seperti ini sangat cocok dalam hal kecepatan maupun ketahanannya. Cumi-cumi Jepang, yang bernama Todarodes pacificus, ketika berpindah tempat sejauh 1250 mil (2000 kilometer) melaju sekitar 1,3 mil per jam (2 kilometer/jam). Untuk jarak pendek, ia dapat melaju hingga 7 mil per jam (11 kilometer/jam). Beberapa jenis diketahui melebihi 19 mil per jam (30 kilometer/jam).

Seekor sumi-cumi dapat menghindar dari pemangsanya dengan gerak sangat cepat karena pengerutan otot yang cepat ini. Ketika kecepatannya saja tidak cukup untuk melindungi dirinya, mereka menyemprotkan tinta pekat dan berwarna gelap yang diolah di dalam tubuhnya. Tinta ini mengejutkan pemangsa beberapa detik, yang biasanya cukup bagi cumi-cumi untuk melarikan diri. Ikan-ikan yang tak diketahuinya di belakang gumpalan tinta tersebut segera menghindari wilayah ini.

Sistem pertahanan dan gaya berenang reaksi pada cumi-cumi juga berguna bagi mereka selama berburu. Mereka dapat menyerang dan mengejar mangsanya dengan kecepatan tinggi. Sistem saraf yang begitu rumit mengatur pengerutan dan pengenduran yang dibutuhkan untuk gaya renang reaksinya. Oleh karenanya, sistem pernapasan mereka juga sempurna, yang menghasilkan metabolisme tubuh yang tinggi yang diperlukan untuk semburan air berkecepatan tingginya.

Cumi-cumi bukanlah satu-satunya hewan yang berenang dengan mengunakan sistem reaksi. Gurita juga menggunakan sistem yang sama. Meskipun demikian, gurita bukanlah perenang yang aktif, mereka banyak menghabiskan sebagian besar waktunya dengan berkeliling melintasi karang dan jurang di lautan dalam.

Kulit bagian dalam seekor gurita terdiri atas banyak lapisan otot yang saling bertumpuk. Otot tersebut meliputi tiga jenis otot berbeda yang disebut otot membujur (longitudinal), melingkar (sirkular), dan jari-jari (radial).

Ketika menyemburkan air keluar, otot-otot jenis melingkar menegang dengan cara memanjang. Namun, karena mempunyai kecenderungan mempertahankan volumenya, lebarnya meningkat, yang biasanya akan memanjangkan tubuhnya. Sementara itu, otot-otot bujur yang meregang mencegah pemanjangan ini. Otot-otot jari-jari tetap meregang selama kejadian ini yang menyebabkan selubung pelindung menebal. Setelah semburan air yang amat cepat, otot-otot jari-jari mengerut dan menyusutkan panjangnya, yang menyebabkan selubung kembali menipis, dan rongga selubung terisi air kembali.

Sistem otot pada cumi-cumi hampir serupa dengan yang dimiliki gurita. Tetapi ada satu perbedaan penting: cumi-cumi memiliki lapisan urat otot (tendon) yang disebut jubah, sebagai pengganti otot bujur yang terdapat pada gurita. Jubah ini terdiri atas dua lapisan yang menutupi bagian dalam dan luar tubuhnya, seperti halnya otot-otot bujur. Di antara kedua lapisan tersebut terdapat otot-otot melingkar. Otot-otot jari-jari terletak di antara keduanya, dalam arah tegak lurus.

Pernapasan
Ketika cumi-cumi membutuhkan banyak energi untuk bergerak secepat yang mereka lakukan, mereka mempunyai tiga jantung. Cumi-cumi berdarah biru. Dua dari jantung mereka berlokasi dekat dengan masing-masing insangnya. Hal ini, mereka dapat memompa oksigen ke bagian tubuh yang beristirahat dengan mudah. Cumi-cumi memiliki pokok sistem pernafasan senyawa tembaga. Hal ini berbeda dengan manusia dimana manusia mempunyai pokok sistem pernafasan senyawa besi. Jika terlalu tertutup pada permukaan dimana terdapat air panas, cumi-cumi dapat mati dengan mudah karena mati lemas.

Habitat
Kemungkinan hidup di air dalam selama musim dingin, tetapi sekitar bulan Mei dia memasuki air dangkal untuk menetaskan telurnya.

Pencernaan
Cumi-cumi adalah carnivora. Ini berarti pemakan daging. Tentacel yang lebih panjang menangkap mangsa. Cumi-cumi menarik makanan itu dengan tentacel yang lebih pendek ketika makanan itu terenggut dengan kekuatan seperti paruh bebek. Kemudian radula membenturkan makanan turun ke kerongkongan sehingga akan turun ke perut untuk di cerna. Radula adalah pita tanduk pada lidah.

Reproduksi
Cumi-cumi berproduksi secara sexual. Cumi-cumi betina mengeluarkan banyak benang telur ke dalam air. Cumi-cumi jantan mengeluarkan sperma. Beberapa spesies telah dikembangkan untuk menaruh sperma di atau dalam cumi-cumi betina. Ini selalu menjadi misteri ilmu pengetahuan bagaimana telur-telur cumi-cumi didapat terbuahi.

Di bawah kulit cumi-cumi tersusun sebuah lapisan padat kantung-kantung pewarna lentur yang disebut kromatofora. Dengan menggunakan lapisan ini, cumi-cumi dapat mengubah penampakan warna kulitnya, yang tidak hanya membantu dalam penyamaran akan tetapi juga sebagai sarana komunikasi. Misalnya, seekor cumi-cumi jantan menunjukkan warna yang berbeda ketika kawin dengan warna yang digunakan ketika berkelahi dengan seekor penantang.

Saat cumi-cumi jantan bercumbu dengan cumi-cumi betina, kulitnya berwarna kebiruan. Jika jantan lain datang mendekat pada waktu ini, ia menampakkan warna kemerahan pada separuh tubuhnya yang terlihat oleh jantan yang datang itu. Merah adalah warna peringatan yang digunakan saat menantang atau melakukan serangan.

Terdapat pula rancangan sempurna pada sistem perkembangbiakan cumi-cumi. Telurnya memiliki permukaan lengket yang memungkinkannya menempel pada rongga-rongga di kedalaman lautan. Janin ini memakan sari makanan yang telah tersedia dalam telur hingga siap menetas. Janin ini memecah selubung telur dengan cabang kecil mirip sikat pada bagian ekornya. Alat ini segera hilang setelah telur menetas. Setiap seluk beluknya telah dirancang dan bekerja sebagaimana direncanakan.

Peranan
Cumi-cumi adalah kebutuhan ekonomi, karena mereka digunakan sebagai makanan, dan sebagai umpan pada jaring ikan. Mereka menjadi makanan ikan kecil, Crustacea dan cumi-cumi yang lain dan dalam perlengkapan lingkaran makanan ikan lain yang besar.

Cara Makan
Cumi-cumi sangat terbantu selama berburu dengan adanya alat peraba (tentakel) pada mulutnya. Tentakel yang seperti cambuk ini biasanya tetap tergulung dalam kantung yang terletak di bawah lengan-lengannya. Ketika menemukan mangsa, cumi-cumi menjulurkan tentakel untuk menyergapnya. Makhluk ini bergantung pada lengan-lengannya (keseluruhan berjumlah delapan) yang telah dirancang dengan tepat. Ia mampu dengan mudah mencabik-cabik seekor kepiting menjadi serpihan kecil dengan menggunakan paruhnya. Cumi-cumi menggunakan paruhnya dengan begitu terampil sehingga mampu dengan baik melubangi kulit cangkang kepiting dan mengeluarkan dagingnya dengan lidah.

Mata
Bentuk mata cumi-cumi sangat rumit. Cumi-cumi dapat memusatkan pupil dengan membawa lensa mendekati retina. Ia juga bisa menyesuaikan volume cahaya yang dimasukkan ke dalam matanya dengan menutup atau membuka lidah kecil di samping matanya. Adanya alat yang amat rumit seperti ini dalam bentuk dua jenis yang sangat berbeda seperti manusia dan cumi-cumi tidak mungkin dijelaskan dengan evolusi. Darwin juga menyebutkan kemustahilan ini dalam bukunya.

Phylum : Mollusca
Ordo : Teuthoidea
Family : Loliginidae
Kelas : Cephalopoda
Species : Loligo pealii

Nama Daerah : Cumi-cumi

Berbagai Sumber