Jumat, 28 November 2008

restorasi hutan mangrove

RESTORASI MANGROVE TAMAN WISATA ANGKE KAPUK

JAKARTA UTARA

OLEH:

Nopen Setiawan

0514111027

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

2008

I. Pendahuluan

Hutan mangrove adalah hutan yang terdapat di daerah pantai yang selalu atau secara teratur tergenang air laut dan terpengaruh oleh pasang surut air laut tetapi tidak terpengaruh oleh iklim. Sedangkan daerah pantai adalah daratan yang terletak di bagian hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berbatasan dengan laut dan masih dipengaruhi oleh pasang surut, dengan kelerengan kurang dari 8% (Departemen Kehutanan, 1994 dalam Santoso, 2000).

Menurut Nybakken (1992), hutan mangrove adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu varietas komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa spesies pohon-pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. Hutan mangrove meliputi pohon-pohon dan semak yang tergolong ke dalam 8 famili, dan terdiri atas 12 genera tumbuhan berbunga : Avicennie, Sonneratia, Rhyzophora, Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus, Lummitzera, Laguncularia, Aegiceras, Aegiatilis, Snaeda, dan Conocarpus (Bengen, 2000).

Sebagai salah satu ekosistem pesisir, hutan mangrove merupakan ekosistem yang unik dan rawan. Ekosistem ini mempunyai fungsi ekologis dan ekonomis. Fungsi ekologis hutan mangrove antara lain : pelindung garis pantai, mencegah intrusi air laut, habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan (feeding ground), tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground), tempat pemijahan (spawning ground) bagi aneka biota perairan, serta sebagai pengatur iklim mikro. Sedangkan fungsi ekonominya antara lain : penghasil keperluan rumah tangga, penghasil keperluan industri, dan penghasil bibit.

Sebagian manusia dalam memenuhi keperluan hidupnya dengan mengintervensi ekosistem mangrove. Hal ini dapat dilihat dari adanya alih fungsi lahan (mangrove) menjadi tambak, pemukiman, industri, dan sebagainya maupun penebangan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan.

Dampak ekologis akibat berkurang dan rusaknya ekosistem mangrove adalah hilangnya berbagai spesies flora dan fauna yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove, yang dalam jangka panjang akan mengganggu keseimbangan ekosistem mangrove khususnya dan ekosistem pesisir umumnya.

Hutan mangrove di wilayah Jakarta Utara yang tercatat seluas ± 192,35 ha, masing-masing di SM. Muara Angke ± 25,23 ha, TWA Angke Kapuk ± 99,82 ha, Hutan Lindung Angke ± 50,8 ha dan hutan mangrove Marunda ± 16,5 ha, kondisinya saat ini diperkirakan seluruhnya hanya tersisa ± 42,05 ha (21,86%) dengan rincian SM. Muara Angke ± 10,1 ha, TWA Angke Kapuk ± 9,98 ha, Hutan Lindung Angke ± 20,32 ha dan hutan mangrove Marunda ± 1,65 ha.

Mengingat parahnya kerusakan ekosistem mangrove saat ini perlu dilakukan upaya pemulihan kembali (restorasi ekosistem mangrove) yang dapatmelelui kegiatan

  1. penanganan dan pengendalian lingkungan fisik dari berbagai bentuk faktor penyebabnya,
  2. pemulihan secara ekologis baik terhadap habitat maupun kehidupannya,
  3. mengharmoniskan perilaku lingkungan sosial untuk tujuan mengenal, mengetahui, mengerti, memahami, hingga pada akhirnya merasa peduli dan ikut bertanggung jawab untuk mempertahankan, melestarikannya, serta
  4. (4) meningkatkan akuntabilitas kerja institusi yang bertanggung jawab dan atau pihak-pihak terkait lainnya

II.ISI

Sejarah Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk

Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk merupakan bagian dari kawasan hutan Angke Kapuk yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Gouvernour General Hindia Belanda Nomor 24 tanggal 18 Juni 1939 seluas ± 15,40 Ha. Pada tahun 1977 Menteri Pertanian dengan Keputusan Nomor 161/Um/6/1977 tanggal 10 Juni 1977 menetapkan kembali peruntukan kawasan hutan Tegal Alur Angke Kapuk sebagai hutan lindung, Cagar Alam Muara Angke, Hutan Wisata, Kebun Pembibitan Kehutanan dan Lapangan Dengan Tujuan Istimewa.

Sejalan dengan tingginya tingkat pertumbuhan penduduk dan kebutuhan akan ruang yang diperuntukan bagi pembangunan sarana dan prasarana kota, maka dilakukan pengukuran dan pemancangan batas ulang yang menghasilkan kawasan hutan seluas 322,6 Ha. dibawah pengelolaan Pemerintah, diantaranya yaitu hutan wisata seluas 91,37 Ha. Hasil pengukuran dan penataan batas TWA tersebut ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kehutanan No.097/Kpts-II/1988 seluas 101,60 ha.

Pada tahun 1994 kembali dilakukan pengukuran dan pemancangan batas ulang oleh tim yang dibentuk Gubernur DKI Jakarta yang menghasilkan perubahan luasan TWA Angke Kapuk menjadi 99,82 Ha. melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 667/Kpts-II/1995.

ARTI PENTING EKOSISTEM MANGROVE

Hubungan Ekosistem Mangrove dengan Ekosistem Lainnya

Ekosistem utama di daerah pesisir adalah ekosistem mangrove, ekosistem lamun dan ekosistem terumbu karang. Menurut Kaswadji (2001), tidak selalu ketiga ekosistem tersebut dijumpai, namun demikian apabila ketiganya dijumpai maka terdapat keterkaitan antara ketiganya. Masing-masing ekosistem mempunyai fungsi sendirisendiri.

Ekosistem mangrove merupakan penghasil detritus, sumber nutrien dan bahan organik yang dibawa ke ekosistem padang lamun oleh arus laut. Sedangkan ekosistem lamun berfungsi sebagai penghasil bahan organik dan nutrien yang akan dibawa ke ekosistem terumbu karang. Selain itu, ekosistem lamun juga berfungsi sebagai penjebak sedimen (sedimen trap) sehingga sedimen tersebut tidak mengganggu kehidupan terumbu karang. Selanjutnya ekosistem terumbu karang dapat berfungsi sebagai pelindung pantai dari hempasan ombak (gelombang) dan arus laut. Ekosistem mangrove juga berperan sebagai habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan (feeding ground), tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground), tempat pemijahan (spawning ground) bagi organisme yang hidup di padang lamun ataupun terumbu karang.

Fungsi dan Manfaat Ekosistem Hutan Mangrove

1. Fungsi hutan mangrove secara ekologi

a. Penentu Sumber Produktifitas Perairan.

Guguran daun bakau ke dalam air pada formasi mangrove yang baik, mencapai 7-8 ton/ha /th, merupakan sumber bahan organik yang penting dalam rantai makanan pada ekosistem hutan mangrove. Hasil dekomposisi daun bakau yang barumembusuk, mengandung 3,1 % protein dan setelah setahun meningkat menjadi 21 %. Keadaan ini menjadi sumber makanan utama bagi jenis moluska, kepiting dan cacing sebagai konsumen tingkat pertama yang akan disusul dengan

konsumen pada mata rantai berikutnya.

b. Penyediaan Habitat Satwa.

Berbagai jenis burung air, primata, reptil dan insecta serta mikroorganisme pembentuk ekosistem mangrove, membutuhkan hutan mangrove sebagai habitatnya. Dengan tingginya tingkat kesuburan habitat mangrove, menjadikan ekosistem peralihan antara daratan dan perairan ini penentu tingkat produktifitas perairan laut disekitarnya. Dengan tingginya tingkat kesuburan habitat mangrove,

menjadikan ekosistem peralihan antara daratan dan perairan ini penentu tingkat produktifitas perairan laut disekitarnya.

c. Pengatur Fungsi Hidroorologis.

Peranan hutan mangrove sebagai tempat penampungan air yang dapat mempertahankan keberadaan lapisan air tawar untuk mencegah masuknya air laut kedaratan (intrusi air laut), merupakan fungsi hidroorologis dari hutan mangrove yang sangat penting khususnya bagi daratan DKI Jakarta.

d. Penjaga Kualitas Air

Peranan hutan mangrove yang dapat memperlambat aliran air, dapat berfungsi sebagai daerah percepatan proses sedimentasi dan penjernihan air yang akan masuk ke laut, sehingga kualitas air laut dapat terpelihara dari kemungkinan terjadinya pencemaran.

e. Pencegah BencanaAlam

Hutan bakau merupakan sarana yang dapat melindungi daratan pantai dari berbagai pengaruh negatif akibat gelombang/arus dan angin laut (abrasi) serta dapat pula menjadi pengendalikemungkinan terjadinya banjir dibagian hulu khususnya pada musim hujan.

f. Penjaga Sistem dan ProsesAlami

Sebagai daerah proses percepatan sedimentasi, maka hutan bakau dapat berfungsi sebagai penjaga sistem dan proses pembentukan lahan/daratan baru di pesisir pantai.

Melihat fungsi mangrove yang sangat strategis dan kompleks, maka para pakar ekologi memberi predikat pada ekosistem hutan mangrove sebagai"Penunjang Sistem Penyangga Kehidupan".

2. Manfaat hutan mangrove secara ekonomi, diantaranya:

a. Sumber Perikanan

Hutan mangrove merupakan daerah potensial bagi tempat asuhan (nursery ground), tempat bertelur, tempat memijah dan tempat mencari makan berbagai jenis ikan dan udang. Beberapa pakar bahkan menyebutkan bahwa tidak kurang dari 80 % berbagai jenis ikan laut yang dikonsumsi manusia, memerlukan hutan mangrove sebagai tempat memijah atau tempat mengasuh anaknya.

b. Penghasil kayu

Kayu yang dapat dihasilkan dari hutan mangrove, bervariasi mulai dari kayu pertukangan, kayu bakar, dan bahan baku arang. Berbagai jenis tumbuhan dari hutan mangrove, kayunya dapat pula dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kertas (pulp) seperti Rhizophora, AvicenniaBruguiera dan serta bahan penyamak kulit seperti ekstrak kulit kayu bakau(Rhizophora) .

c. Sumber Plasma Nutfah

Jenis-jenis flora dan fauna dari hutan mangrove yang sampai saat ini belum teridentifikasi manfaatnya bagi manusia, akan menjadi sumber plasma bagi kepentingan ilmu pengetahuan dan penelitian dimasa yang akan datang. Dengan kemajuan teknologi, tidak tertutup kemungkinan jenis-jenis tersebut kelak berpotensi meningkatkan kualitas tanaman dan hewan melalui budidaya.

3. Kepentingan hutan mangrove ditinjau dari aspek sosial budaya,

a. Sumber mata pencaharian masyarakat

Masyarakat pesisir, secara tradisional telah cukup lama memanfaatkan areal hutan mangrove dan perairan disekitar-nya untuk memperoleh kayu, ikan,udang, kepiting dan kerang. Jenis-jenis tersebut sering dijadikan sebagai sumber mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari atau sebagai sumber pendapatan. Pemanfaatan hutan mangrove khususnya untuk keperluan budidaya tambak di Indonesia, sudah berlangsung cukup lama yaitu sejak lima abad yang lalu khususnya untuk tambak banding dan udang.

c. Sumber Pangan

Hutan mangrove bagi sebagian besar masyarakat pesisir, merupakan sumber pangan karena diperairan sekitar hutan mangrove yang tumbuh baik,

ditemukan berbagai sumber protein yang dapatdijadikan sumber pangan diantaranya ikan, udang, kepiting dan kerang. Pada formasi mangrove yang vegetasi utamanya nipah, juga dapat menjadi sumber papan dan pangan karena nira dari sadapan buah nipah mengandung kadar gula antara 14% - 17%. Demikian pula dengan daunnya, masyarakat sekitar umumnya memanfaatkan sebagai atap, dinding, tikar, keranjang, topi sementara daun mudanya dimanfaatkan untuk pengganti kertas rokok.

d. Sumber bahan obat-obatan

Tumbuhan dari hutan mangrove, bermanfaat pula bagi sumber bahan obat-obatan antara lain daun Bruguiera sexangula dapat dijadikan sebagai obat penghambat tumor. Sementara Ceriops Tagal dan Xylocarpus mollucensis untuk obat sakit gigi.

e. Tempat kegiatan wisata alam

Kondisi hutan mangrove yang cukup khas dan unik, berpotensi untuk dikembangkan sebagai tempat melakukan kegiatan wisata alam seperti memancing, bersampan, fotografi, pengamatan burung dan penelitian.

f. Sarana penelitian dan pendidikan

Setiap formasi pada mangrove, memiliki kekhasan masing-masing baik dari aspek flora, funa, komunitas, habitat dan proses ekologis. Oleh karena itu, hutan mangrove sangat penting untuk penyediaan sarana penelitian dan pendidikan baik untuk bidang ilmu biologi, ekologi, limnologi, oceanologi, geologi, dan geomorphologi, sehingga menarik bagi dunia pendidikan, penelitian dan ilmu pengetahuan.

g. Sumber bahan obat-obatan

Tumbuhan dari hutan mangrove, bermanfaat pula bagi sumber bahan obat-obatan antara lain daun Bruguiera sexangula dapat dijadikan sebagai obat penghambat tumor. Sementara Ceriops Tagal dan Xylocarpus mollucensis untuk obat sakit gigi.

h. Tempat kegiatan wisata alam

Kondisi hutan mangrove yang cukup khas dan unik, berpotensi untuk dikembangkan sebagai tempat melakukan kegiatan wisata alam seperti memancing, bersampan, fotografi, pengamatan burung dan penelitian.

i. Sarana penelitian dan pendidikan

Setiap formasi pada mangrove, memiliki kekhasan masing-masing baik dari aspek flora, funa, komunitas, habitat dan proses ekologis. Oleh karena itu, hutan mangrove sangat penting untuk penyediaan sarana penelitian dan pendidikan baik untuk bidang ilmu biologi, ekologi, limnologi, oceanologi, geologi, dan geomorphologi, sehingga menarik bagi dunia pendidikan, penelitian dan ilmu pengetahuan.

j. Atribut sosial budaya

Hutan mangrove dan lahan basah umumnya, dapat menjadi atribut sosial budaya masyarakat yang hidup disekitarnya. Contoh tersebut dapat dilihat dari tradisi rumah panggung dan lanting yang disesuaikan dengan tinggi rendahnya pasang surut untuk budaya rumah di Kalimantan; pemanenan sumberdaya hutan sagu yang disesuaikan dengan musim tertentu (sasi) sebagai aturan adapt yang mendukung program konservasi karena didalamnya mencakup upaya-upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan secara lestari, berkembang sebagai suatu budaya masyarakat Maluku dan Irian serta penggunaan alat tangkap ikan dengan ukuran tertentu sebagai budaya masyarakat yang memanen ikan di Danau Sentarum Kalimantan Barat.

PERMASALAHAN DAN UPAYA PENYELESAIAN

B. Sampah Rumah Tangga

Sampah dan limbah padat yang ada merupakan hasil buangan industri, rumah tangga dan sarana transportasi air yang melayani perairan Utara Jawa dan Selat Sunda. Mayoritas sampah tersebut pada umumnya merupakan sampah rumah tangga. Sampah dan limbah padat tersebut berupa sampah organik dan sampah anorganik dimana kedua jenis tersebut sampai saat ini menjadi momok bagi terpeliharanya ekosistem mangrove terutama Kawasan TWA Angke Kapuk, serta akan menggangu pertumbuhan dan perkembangan vegetasi mangrove dan menurunnya produktivitas ikan (Management Plan SM.Angke, 2000).

C. PencemaranAir

Kondisi sampah dan limbah padat di Teluk Jakarta sangat memprihatinkan. Jumlah sampah rumah tangga yang melalui 13 sungai termasuk Sungai Kamal, tingkat penumpukannya sangat tinggi yang terjadi di pesisir pantai. Sampah dan limbah padat tersebut saat ini telah menutupi aliran drainage pasang surut air laut. Hal tersebut diungkapkan oleh beberapa petambak liar di kawasan TWA Angke Kapuk semakin hari semakin berkurangnya kuantitas tangkapan udang/ikan di areal tambak illegal tersebut. Kondisi kualitas perairan di daerah DKI Jakarta mulai tercemar, hal tersebut terlihat dari berbagai zat pencemar yang terdapat di perairan teluk DKI Jakarta yang merupakan akumulasi pencemaran dari 13 sungai yang bermuara di teluk Jakarta (data informasi Hasil Pemantauan Bapedalda DKI Jakarta, 2000). Dari informasi tersebut Kawasan Hutan Angke Kapuk termasuk TWA Angke Kapuk yang berbatasan langsung dengan pantai dan Laut Jawa, sehingga mengakibatkan rusaknya pertumbuhan dan perkembangan ekosistem hutan mangrove.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar